Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 19 April 2011

KEKERASAN BUDAYA


KEKERASAN BUDAYA
Oleh : Johan Galtung
Sebelum kita membahas tentang kekerasan budaya, kekerasan langsung dan juga kekerasan structural menurut  johan galtung. terlebih dahulu kami akan menjelaskan devinisi kekerasan itu sendiri.
Kekerasan lazimnya kita menyebutnya dengan violence,  berasal dari bahasa latin yaitu vis yang berarti daya, kekuatan dan latus brasal dari feree yang berarti membawa, yang kemudian berarti membawa kekuatan. Namun menurut johan galtung kekerasan adalah sebagai segala sesuatu yang menyebabkan orang terhalang untuk mengaktualisasikan potensi diri secara wajar, karena pada hakikatnya setiap individu mempunyai hak dan potensi untuk mengaktualisasikan diri secara wajar dan natural.
            DEVINISI KEKERASAN LANGSUNG
Kekerasan langsung adalah kekerasan yang dilakukan oleh satu atao sekelompok actor kepada pihak lain dengan menggunakan alat kekerasan, dan seringkali lebih bersifat fisik dan secara langsung, jelas siapa subjek siapa objek, siapa korban dan siapa pelakunya. Seperti contoh pembunuhan, pemotongan anggota tubuh dan lain sebagainya. Jadi identifikasi paling mendasar tentang kekerasan langsung adalah dengan adanya korban luka maupun meninggal.
DEVINISI KEKERASAN STRUCTURAL/ TIDAK LANGSUNG
Kekerasan tidak langsung adalah kebalikan dari kekerasan langsung, dimana lebih bersifat psikis, seperti contoh kasus gizi buruk, itu bukan akibat ulah kekerasan yang dilakukan secara langsung tetapi lebih kepada akibat tatanan sistem politik, sosial budaya dan juga ekonomi yang tidak adil atau tidak seimbang dalam menjalankan peranya, karena alas an ini sehingga menyebabkan kekerasan menjadi terbuka, atau contoh lain seperti pembalasan dendam, pengasingan, blockade, diskriminasi,.
DEVINISI KEKERASAN KULTURAL / BUDAYA
Kekerasan budaya yakni nilai nilai budaya yang di gunakan untuk  membenarkan dan mengesahkan penggunaan kekerasan langsung atau tidak langsung, wujud dari kekerasan cultural adalah bendera kebangsaan, pidato para pemimpin,dalil dalil dalam agama, dan beragam poster yang membangkitkan dorongan untuk menjalan kan kekerasan sehingga kekerasan ini menjadi sah secara budaya dan mendapatkan legitimasi.
Lalu bagaimana hubungan kekerasan dengan konflik?  Jelas keduanya memiliki hubungan yang sangat erat karena kekerasan adalah merupakan aktualisasi daripada konflik, dan konflik itu sendiri menempatkan dirinya berada pada alam bawah sadar atau di otak kita. Jadi kekerasan itu berangkat terlebih dahulu dari konflik yang tersimpan dalam memori kita kemudian berujung pada terjadinya benturan fisik atau psikis. Lalu bagaimana resolusi konfliknya ?  akan lebih mudah bagi kita untuk  menawarkan resolusi konfliknya jika terlebih dahulu kita mengetahui jenis kekerasan apa yang terjadi , Kekerasan langsung, tidak langsung atau kekerasan budaya. Jika jenis kekerasan yang terjadi adalah kekerasan langsung maka yang paling tepat adalah dengan menggunakan kakuatan diluar kedua belah pihak yang berkonflik dan tentu harus lebih kuat. Jika kekerasan yang terjadi adalah kekerasan tidak langsung maka yang paling tepat di gunakan adalah memutuskan mata rantai yang menyebabkan terus menerusnya kelangsungan hidup kekerasan struktural tersebut dengan cara memberikan pengetahuan kepada generasi selanjutyna bahwa kekerasan itu harus di hentikan dan menyediakan mediator yang telah di setujui oleh kedua belah fihak, serta menjalin,dan menjaga komunikasi yang baik dan seimbang. Sehingga yang menjadi inti dari  struktur itu adalah pengertian tentang nilai nilai positif yang akan berujung pada berhentinya kekerasan structural tersebut yang mengarah pada gerakan massif.

Kelompok 9 :
1.     Fela Layyin (07260116)
2.    Ikhrotul Fitriyah (07260119)
3.    Saiful Milah (07260078)
4.    Devi Fitriani (07260067) 

Tidak ada komentar: