Ads 468x60px

Sabtu, 23 Juli 2011

HUBUNGAN LUAR NEGRI INDONESIA DIMASA ERA ORDE BARU ( SOEHARTO)


PENINGKATAN HUBUNGAN LUAR NEGRI INDONESIA ERA ORDE BARU[1]
(Soeharto)

Abstract
This article will study dynamics and resistance foreign policy of Indonesia barely, that focus to Suharto era, in this article there are the important points, among other are, how was situation Indonesia after collapse of Sukarno, and than how was Suharto curing difficult situation after collapse of sukarno, and the end made Indonesia return correlate in international podium.
Indonesia is a country that has not stabile in any aspect “economic, politic, law,” more ever after collapse of sukarno, Indonesia very bad situation, so that Suharto must cur domestic situation  than make capital  to international chess, Indonesia is a development country of course,  must make domestic situation to be strong for facing international politic, so that if domestic situation was strong that make development country as special Indonesia has bargaining position, this meter was success on Suharto playing in foreign policy of Indonesia, foreign policy of Indonesia was playing by Suharto with principle” active, free “

Keyword: foreign policy, Suharto, domestic situation, development country

Pendahuluan
Indonesia merupakan Negara berkembang yang terletak di kawasan asia tengara, Indonesia mendapat kemerdekaanya dengan penuh perjuangan dengan tumpah darah penghabisan sehingga dengan itu Indonesia berkewajiban menjaga kedaulatan Negara dari semua jenis penjajahan dan sejatinya bisa mandiri dalam mengatur seluruh warga Negara Indonesia, hal itu yang termaktum dalam UUD 1945[2], yang kemudian menjadi landasan berjalannya bangsa ini,indonesia sebagai Negara tidak terlepas dalam kancah international dalam keberadaanyan, sehingga dengan itu Indonesia memiliki pola hubungan dengan Negara lain yang hal itu di sebut, sebagai politik luar negeri, hubungan luar negri Indonesia atau politik luar negri indonesia menjadi sangat menarik untuk di analisa karena sejalan dengan berjalanya waktu dan bergantinya rizim yang menjadi penguasa dalam republik ini, politik luar negeri Indonesia ini merupakan salah satu alat yang di mainkan oleh Negara untuk menanggapi situasi internasional,[3] hal ini yang di mainkan oleh para pemimpin negeri ini, mulai dari era  sukarno yang di sebut dengan era orde lama dan era Suharto yang di kenal dengan era orde baru sampai masa reformasi, dalam setiap periode pemerintahan yang di pimpin oleh orang yang berbeda tentu akan menjadikan politik luar negeri yang berbeda pula,
Politik luar negri Indonesia yaitu berprinsip pada pilitik luar negeri bebas aktif, yang ini di cetuskan oleh bung hatta,[4] bebas aktif ini menempatankan pada posisi tidak berpihak pada dua Negara super power, dimana pada awal kemerdekaan Indonesia di hadapkan pada kekuatan besar yaitu blok barat dan blok timur, bebas aktif ini merupakan upaya Indonesia untuk menjadai Negara penyeimbang yang menjadi Negara yang mandiri dan tidak tergantung pada kedua kekuatan dunia tersebut sehingga dalam situasi itu, Indonesia mengagasan untuk membentuk organisasi non blok ”GNB” yaitu perkumpulan Negara Negara yang mempunyai tujuan menjadi penyeimbang kedua kekuatan tersebut, Indonesia sebagai Negara merdeka tentu mempunyai sikap yang jelas walau pada masa itu Indonesia masih bisa di katakan seumur jagung, tetapi hal itu tidak membuat Negara ini berkecil hati, sokarno  memainkan politik bebas aktifnya dalam percaturan international untuk kepentingan natioanalnya.
Politik luar negri Indonesia dalam kebijakanya  mengalami beberapa perubahan dan dinamika serta tangtangan dalam interaksinya, hal itu karena dinamika perubahan international, kebutuhan Negara yang menjadikan kebijakan itu dinamis,lihat saja yang akan di uraikan oleh kolompok dua dalam melihat peningkatan hubungan luar negeri Indonesia pada era pemerintahan Suharto atau era orde baru, dalam peningkatan hubungan luar negri pada masa Suharto sudah pasti harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana politik luar negeri yang di mainkan oleh rezim sebelumnya, yaitu sukarno. Yang hal ini nanti akan di urai secara sederhana dalam pembahasan di bawah ini.
Politik luar negeri seperti yang di sebutkan di atas, bahwa itu merupakan alat yang di mainkan oleh Negara untuk menghadapi dan menanggapi situasi internasional dalam menetukan kebijakan luar negerinya, kebijakan luar negeri merupakan suatu upaya untuk memenuhi kepentingan nationalnya,yang merupakan prinsip dari semua Negara,[5] bahwa dalam berintraksi  dengan dunia international itu tidak lain adalah untuk terutama menjada bagaimana kepentingan dalam negaranya masing masing terpenuhi, baik itu dalam hal ekonomi, politik maupun yang lainya.
Kajian teoritis   
Pendekatan pembangunan
            Dalam beberapa literatur  di jelaskan bahwa politik luar Negara negara berkembang merupakan politik luar negeri atau  kebijakan Negara yang di dikeluarkan dan di fokuskan untuk peningkatan  pertumbuhan dalam negerinya, hal ini di maksudkan untuk membuat kapabilitas dalam negeri menjadi stabil sehingga daripada itu  perioritasnya adalah bagaimana interaksi itu yang bisa beruntung dalam pemulihan di dalam negerinya dalam semua sektor terutama sektor ekonomi , ke tidakstabilan dalam negeri suatu Negara itu akan berimplikasi terhadap out put bagi Negara tersebut. Hal ini ter uraikan dalam    sub bab kapabilitas dalam negri dan international[6], bahwa kapabilitas domistik suatu sistem politik  sedikit banyak juga ada pengaruhnya terhadap kapabilitas internationalnya, politik luar negeri suatu Negara banyak bergantung pada berprosesnya dua variabel,  yaitu variabel kapabilitas dalam negeri dan kapabilitas internasional,[7] bagi Negara berkembang seperti Indonesia misalnya salah satu contoh merupakan Negara yang kebijakan luar negerinya terfokus untuk peningkatan di dalam negerinya, hal ini terlihat pada era orde baru dimana pada waktu itu Suharto merusaha dengan semaksimal mungkin  memainkan diplomasinya dengan dunia international untuk mengembalikan situasi Indonesia pada situasi yang makmur, oleh karenanya kajian teoritis ini memandang bahwa pendekatan pembangunan merupakan suatu pendekatan yang menjelaskan bagaimana pola politik luar negeri Negara berkembang bagaimana politik itu di mainkan dan pada titik apa politik luar negeri itu dimainkan, maka oleh sebab itu yang di maksud dengan pembangunan di atas adalah seperti yang akan di uraika berikut ini:
a.       Pembangunan lingkungan / masyarakat
Proses politik merupakan suatu mekanisme tengtang bagaimana tuntutan tuntutan mendapatkan penyaluran dan tanggapan, yang semuanya antara lain tergantung pada persoalan persoalan yang di hadapi oleh sistem politik yang bersangkutan dalam masalah kemampuan elstraktif, distributif, regulatif dan sebagainya.[8] Hal ini kemudian berkaitan dengan pola prilaku elit politik dalam menentukan sikap politiknya, sikap respon masyarakat dalam ikut berpartisipasi dalam proses politik domestic ini kemudian akan memberi suatu pegangan yang kuat bagi disicion maker untuk mengambil sebuah keputusan dalam kepentingan dasionalnya, hal ini kenapa di pandang perlu pembangunan lingkungan, atau masyarakat, karena itu merupakan pilar suatu Negara berkembang  untuk mencapai kesetabilan dalam pembangunan ekonomi dan lainya, seperti di sebutkan bahwa keadaan domestic itu akan member dampak terhadap politik luar negerinya, maka oleh sebab hal itu penyadaran terhadap masyarakat serta pembangunan lingkungan yang memberi kesan untuk penyadaran bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan berpartisipasi dalam pangung politik domestic, sehingga tatkala pembangunan di dalam membri kesadaran berpartispasi dan nilai nilai kebangsaan di tanamkan dalam masyarakat maka hal itu akan memudahkan para pengambil keputusan untuk naik satu step lagi pada sasaran utamanya yaitu pembangunan dalam stabilitas ekonomi untuk kemakmuran dan kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia.  
b.      Pembangunan politik / pemerintah  
Struktur politik terlihat bahwa ekskutif memegang peranan yang sangat penting dalam mengarahkan dan membawa masyarakat secara keseluruhan ke arah suatu tujuan tertentu, tujuan itu akan di wujudkan melalui serangkaian kebijaksanaan, rencana pelaksanaan pencapain tujuan dengan demikian merupakan tanggung jawab pemerintah, namun demikian tiada rencana yang di dalamnya tidak terkandung aspek waktu dan pertahapan, unsur waktu ini sangat di pengaruhi oleh stabilitas politik sebagai hasil proses interaksi komponen komponen sistem  politik,
Dalam keadaan tidak ada kestabilan pemerintah/ politik, maka eksekutif mungkin bersifat kompromistik dalam mengambil keputusan atau tidak bisa bertindak tegas karena lebih memperhatikan kelangsungan jabatannya ketimbang bertindak kekar, dengan akibat segala programnya akan menjadi buyar di tengah jalan, sebenarnya kestabilan politik mungkin bisa di capai baik secara di paksakan maupun secara sejawarnya atau tidak di paksakan,[9] seperti di uraikan di atas bahwa pembangunan ini merupakan salah satu pendekatan bagi Negara berkembang  untuk berinteraksi dengan dunia international, yang hal itu di butuhkan persyaratan dalam sumua komponen Negara, diantaranya adalah politik dan pemerintahan sendiri, yang ini akan di implementasikan dalam beberapa agenda di antaranya. Untuk meningkatkan stabilitas politik yaitu pembinaan kepemimpinan, pembangunan administrasi Negara  dan lain sebagainya,
Pembahasan
            Dalam pembahasan kali ini akan di bahas secara sistematik bagaimana politik luar negeri Indonesia serta bagaimana pola dinamika hubungan internasional mempengaruhi pola politik luar negri Indonesia, sehingga seperti yang mau kita jelaskan bagaimana peningkatam politik luar negeri Indonesia pada masa orde baru, oleh karenanya dalam melihat peningkatan pilitik luar negeri Indonesia pada masa orde baru tentu kita ulas sedikit bagaimana politik luar negeri  sebelumnya untuk  menjadi perbandingan apakah politik luar negri itu mengalami peningkatan ,atau tetap jalan pada tempatnya.
a.      Orde lama /  masa sukarno
Sukarno merupakan presiden pertama Indonesia sejak kemerdekaan rerpublik Indonesia yaitu merupakan awal dari pembentukan Negara NKRI dan mendapatkannya pengakuan dari dunia internasional, sukarno sebagai pemimpin Negara sudah pasti tidak bisa di pungkiri untuk berinteraksi dengan dunia internasional, awal kemerdekaan Indonesia merupakan awal dari semua hal yang berkaitan dengan komponen Negara, dari perundang undangan sampai pada acuan dan falsafah Negara, UUD dan pancasila, sebagai Negara yang baru merdeka Indonesia menerapakan politik luar negerinya dengan politik luar negri bebas aktif yang di gagas oleh bung hatta,[10]   bebas aktif ini merupakan sikap Indonesia dalam menghadapi politik internasional apalagi ketika itu  dunia di hadapkan pada dua kekuatan dunia yaitu bok barat dan blok timur, sehingga dari pada itu  Indonesia sebagai Negara yang merdeka dan mandiri untuk menjalankan poltik luar negerinya, di tetapkan politik luar negeri bebas aktif oleh bung hatta untuk menjadikan posisi Indonesia tidak masuk dalam dua arus kekuatan dunia tersebut, oleh karenanya politik yang dimainkan oleh bung karno adalah berhubungan dengan semua Negara adikuasa tersebut, dan membuat posisi Indonesia di pandang sebagai Negara yang mandiri, di samping itu dalam mempererat hubgungan internationalnya Indonesia sebagai ke eksistensinnya dalam percaturan internasional, ikut serta dalam pembuatan Negara non blok GNB yaitu perkumpulan Negara yang tidak ikut dalam dua arus tersebut,
Sebagai anggota  dari Negara non blok Indonesia dalam menjalankan politik luar negrinya, tentu mendapat ke untungan untuk untuk bisa berhubungan secara dewasa dengan dua kutup itu, namun bisa di pahami dari psikologi bangsa Indonesia bahwa pada masa itu Indonesia masih Negara yang baru merdeka tentu politik yang di mainkan oleh bung karno yaitu mengupayakan mendapatkan pengakuan, dan meyakinkan keberadaannya dalam pentas international, sehingga yang di tonjolkan adalah bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang tegar yang tidak mau adanya klonialism dan imprealisme di bumi Indonesia, sehingga politik bung karno terkesan konfrontatif, dengan menolak semua jenis bantuan dari luar terutama dari barat sehingga yang kemudian membuat hubungan Indonesia dengan barat tidak se harmonis mungkin, apalagi sukarno dengan tegasnya  mengatakan “ go to hell with your aid”,[11] sikap politik bung karno yang anti pada barat, karena bangtuan barat ini di anggapnya sebagai penjajah, bung karno menolak semua jenis penjajahan terhadap Indonesia, sehingga dengan sikap poltik luar negeri yang seperti ini membuat Indonesia di satu sisi bagus karena upaya untuk menjaga kedaulatan Negara dari semua jenis penjajahan,
Bung karno menjalankan politik luar negerinya dengan nasionalis dan revolusioner hal ini tercermin dalam konfrontasi dengan Malaysia dan politik anti bantuan barat yang di nilainya sebagai penjajahan bagi Indonesia,  selogan, “gayang malaysia, dan go to hell with your aid”[12] ini merupakan sifat radikal dari sukarno yang tidak lain adalah untuk kepentingan Negara berdaulat baru untuk menancapkan namanya dalam panggung international, dan yang sangat mengejutkan Indonesia dengan sokarno sebagai pemimpin Negara menyatakan keluar dari organesasi bangsa bangsa ”PBB”, ini merupakan kebijakan luar negeri yang sangat berani bagi sukarno.
b.       Era orde baru / masa soeharto
Soeharto merupakan presiden republik Indonesia ke dua setelah jatuhnya kekuasaan bung karno, jatuhnya presiden bung karno merupakan keterpurukan bagi Indonesia dalam semua aspek, terutama keadaan dalam negeri, kesenjangan, gejolak sosial politik me warnai Indonesia pada tahun 1966 dimana awal soharto jadi presiden dan berakhinya kekuasaan bung karno, kekacauan Negara selepas peninggalan bung karno membuat soharto harus bekerja keras untuk memulihkan keadaan , sehingga yang menjadi fokus awal Suharto adalah pemulihan domestik,
Soeharto sebagai penerus pemerintahan sukarno bukan saja di hadapkan  pada persoalan domestik tetapi juga permasalahan internasional, lihat bagaimana hubungan Indonesia dengan barat, serta bagaimana hubungan Indonesia dengan Negara tetangga, Malaysia dan singapura itu semua adalah persoalan yang harus di sikapi oleh Suharto, Suharto sangat paham betul dengan situasi dan kebijakan apa yang harus di ambilnya dengan situasi yang di hadapi, pada awal pemerintahannya Suharto sebagai kepala Negara  memfokuskan untuk pemulihan pembangunan di dalam domistiknya[13] karena dengan asumsi bahwa penguatan domistik ini akan memudahkan dan medatangkan investor dari luar untuk kemajuan pembangunan dalam negerinya hal ini yang tidak di mainkan oleh sukarno sehingga Negara tidak tercapai kestabilannya,
Dalam politi luar negerinya Suharto menjalankannya dengan koopratif dengan landasan politik luar negeri bebas aktif, ketika pilitik politik luar negri Indonesia awal pemerintahan Suharto di hadapkan pada masalah konflik regional, yaitu konflik konfrontasi dengan Malaysia, maka politik luar negeri yang di mainkan oleh Suharto adalah untuk menyelesaikan konflik itu dengan  upaya perdamaian kedua Negara tersebut, sehingga konflik itupun di akhiri secara formal di Jakarta,  upaya keikut sertaan dalam  panggung internasional tidak mudah dalam keadaan Indonesia tidak lagi sebagai anggota PBB, maka oleh sebab itu Suharto kemudian mengembalikan Indonesia menjadi anggota PBB,[14] ini guna untuk menunjukkan ke eksistensian Indonesia dalam panggung internasioanl, namun sejalan dengan itu dengan landasan politik luar negeri bebas aktif Indonesia mulai eksis dan meningkatkan prilakunya di panggung international yang di mulainya dari menjadi penggagas forum regional asia tenggara dengan Negara negega lainya, sehingga terbentuklah forum itu yang di kenal dengan ASEAN,[15] terbentuknya forum ini merupakan upaya politik luar negeri bagi Negara yang mempunyai permasalahan yang sama yaitu upaya untuk meningkatkan, keamanaa, ke stabilan, pertumbuhan yang di gagas oleh lima Negara yang masing di dasari dari konflik yang sama sehingga pempunyai kesadaran bersama pula untuk menjadi suatu forum regional,
Forum regional ini merupakan awal yang di jadikan jempatan untuk proses langkah langkah politik luar negerinya, dalam percaturan global, situasi okonomi yang masih kurang stabil ini membuat Suharto hati hati dalam setiap tindakannya, dan selalu menjalin hubungan baik dengan semua Negara, hal ini di tunjukkan dalam pola yang ditunjukan oleh pak harto dalam kunjungannya ke uni soviet, hal ini untuk menjaga landasan politik luar negeri yang bebas aktif,  tetapi dalam perjalanannya  banyak pihak yang menilai bahwa pada kepemimpinannya pak harto lebih condong pada barat,[16] dimana hal ini di dukung dengan fenomena gerakan anti Negara negara komunis, yang mana Indonesia merupakan salah satu Negara yang juga anti gerakan komunisme,   
Indonesia terus mengalami peningkatan dalam segala hal baik ke stabilan dalam negeri  maupun ekonomi, sejalan dengan itu Indonesia terus eksis dalam percaturan dunia, mulai dari bergabungnya menjadi anggota OPEC, OKI, APEC, G 15, ini semua adalah peningkatan politik luar negeri indonesia pada masa Suharto, sepanjang pemerintahan Suharto selama 32 tahun bisa di petakan menjadi tiga masa, yang pertama yaitu masa awal dimana pada waktu awal pemerintahanya Suharto memfokuskan  pada pembangunan dalam negerinya, dengan menata semua aspek untuk menguatkan pondasi dalam menghadi percaturan dunia, yang kedua yaitu masa perkembangan atau kejayaan dimana pada masa ini Indonesia mencapai puncaknya dimata dunia, dengan sosok Suharto dan politik luar negerinya yang berhasil mencapai stabilitas dalam semua aspek, yang  ini kemudia menjadikan Negara Indonesia sebagai singa di asia, hal ini tidak lain adalah karena ke eksistensianya dalam percaturan internasional, dan aktif dalam pertemuan internasional sampai mau akhir runtuhnya kekuasaan pak harto, Indonesia menjadi ketua GNB, masa yang ketiga adalah masa penurunan atau keruntuhan kekuasaan Suharto dimana pada masa waktu itu kawasan  asia di hadapkan pada krisis, yang hal itu juga berimbas pada Negara Indonesia hingga mengantar Suharto turun dari tahta kekuasaanya dengan demonstrasi mahasiswa.   

Kesimpulan  
Politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif menempatkan Indonesia tidak ikut dalam kolompok besar dua Negara adidaya , uni soviet dan amerika serikat, politik luar negeri Indonesia terus di mainkan dan di tingkatkan oleh Suharto dengan mengembalikan hubungan harmonis dengan Malaysia dan singapura, dan di kembalikannya Indonesia menjadi anggota PBB, serta ikut serta dalam pembentukan dan bahkan menjadi pelopor pembentukan forum regional ( asean ) dan juga aktif dalam forum internasional lainya,seperti opec, oki, serta apec ini merupakan peningkatan inetraksi internasioanl Indonesia dalam kebijakan luar negrinya yang tujuannya adalah untuk mencapai tingkat kemakmuran dan ke stabilan dalam tingkat regional maupun global.     

  
    

  
  


            DAFTAR PUSTAKA
Kantaprawira, rusadi, system politik indinesia, sinar baru al gensindo, bandung 1999
Reoder OG, the smiling general,1969
http//;  ahistoris politik luar negeri indonesia « Yolis212niba's Weblog.htm di akses jumat 29 april  2011
http//; Periodisasi Politik Luar Negeri Indonesia dari Masa Orde Lama hingga Masa Reformasi.htm. diakses jumat 29 april 2011
http//;politik-luar-negeri-soekarno-soeharto.html di akse kamis 28 april 2011


 

  






[1] Ditulis Oleh Mahrus Mahasiswa Hhubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang
[2] uu nomer 1 tahun 1982
[3] Definisi politik luar negri “ by kolompok 2
[4]http:// Periodisasi Politik Luar Negeri Indonesia dari Masa Orde Lama hingga Masa Reformasi.htm. di akses sabtu 2011
[5] Rusadi kantaprawira , system pilitik Indonesia, 1999
[6] ibid
[7] ibid
[8] Ibid
[9] Alfian, perkembangan politik Indonesia selama 25 tahun merdeka, Jakarta 1971
[10] http:// Periodisasi Politik Luar Negeri Indonesia dari Masa Orde Lama hingga Masa Reformasi.htm. di akses sabtu 2011
[11] Bung karno said
[12] Bung karno said
[13] Og roeder , the smilling general,1969
[14] http://www.progind.net Monday, 30/Mar/2009 10:10 / Page 33
[15] http://rahmatxgrafi.blogspot.com/2010/03/pembentukan-asean.html
[16] http://renggamoslem.wordpress.com/2009/04/01/17/

1 komentar:

Download BUKU GRATIS Disini mengatakan...

Apa yang bisa dipelajari dari hubungan atau politik (kebijakan) luar negeri indonesia di msa Suharto? kiranya kita dapat mengevaluasinya dengan baik dan merancang suatu relasi yang lebih memposisikan Indonesia yang kasihan ini pada kancah persaingan dunia,,,,