Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 19 April 2011

Aksi Kolektif dan Kekerasan


Aksi Kolektif dan Kekerasan[1]
(Charles tilly)
          “Pengambilalihan dan rasionalisasi kebiadaban moral telah menjadi bagian utama pengalaman kaum kapitalis”
-Barrington Moore Jr
Sepenggal kutipan kecil dari tulisan barrington moore Jr diatas akan mengantarkan tulisan ini dalam mencoba memhami  beberapa ide pokok dari charles tilly mengenai aksi kolektif dan kekerasan, Charles tilly lebih meilhat aksi kolektif merupakan suatu aksi yang muncul karena beberapa individu kemudian memiliki kesamaan tujuan yang menggerakkan mereka untuk melakukan suatu tindakan berasama demi mencapai tujuannya. Namum Charles tilly melihat beberapa kasus aksi kolektif yang pernah terjadi justru menunjukkan adanya penyimpangan-penyimpangan yang timbul sebagai respon yang tidak beralasan, Ini diakibatkan karena gerakan-gerakan dari aksi kolektif kemudian mudah disusupi dan ditanami oleh kepentingan-kepentingan sekelompok orang yang umumnya adalah kaum kapital. Moore pun menyuarakan skeptisisme halus yang sangat sulit mengenai sejauh mana organisasi besar dan gerakan massa benar-benar mampu memenuhi kebutuhan akan keadilan bagi para anggotanya, Oleh karen itu charles tilly mencoba melihat asumsi dasar moore yang mencoba memutuskan dua tradisi utama dalam menganalisis aksi kolektif rakyat. Tradisi pertama dimana memperlakukan protes, Pemberontakan, dan fenomena terkait sebagai respon tak beralasan untuk menekan dan tradisi yang kedua yakni yang mengikat semua aksi yang berbeda sebagai ungkapan pergerakan sosial yang berkembang.
Charles tilly memilih istilah abstrak aksi kolektif dari pada protes atau pemberontakan karena ada dua alasan. Pertama berkenaan dengan kosa kata konvensional dimana tidak hanya protes dan pemberontakan tetapi juga kekacauan, Ganguan dan istilah yang sama menghukum tampa memeriksa maksud dan kedudukan aktor yang kesemuaan itu dapat di cover dalam satu kata yakni “aksi kolektif”. Yang kedua, Aksi kolektif mencakup berbagai perilakau yang hubungan  dan ciri-ciri umumnya patut mendapat perhatian.
Akan tetapi tujuan utama tulisan dari charles tilly ini hanya mecoba menggambarkan perbedaan aksi di abad ke 18 dan abad ke 19[2], Dengan pemahaman yang jelas mengenai zona kelabu diantara abad-abad tersebut. Dimana abad ke 18 ditandai dengan ciri aksi kolektif penjarahan makanan, Pemberontakan terhadap pajak, Penyerbuan lahan, Teater jalanan yang parau dan cara-cara yang lainya untuk menyampaikan tuntutan, Dalam aksi kolektif abad ke 18 ini memperlihatkan sebuah aksi kolektif yang masih sangat tradisional dalam menyuarakan tuntutanya, Ini disebabkan kurangya pemanfaatan ruang publik serta media untuk menarik perhatian rakyat dan pemerintah demi mencari dukungan atas tuntutanya dan aksi kolektif seperti ini umumnya berimbas pada aksi kekerasan jika tuntutanya tidak terpenuhi. Namum abad ke 19 lebih ditandai dengan Aksi mogok, Demonstrasi, Rapat publik dan Sidang pemilihan. Ini memperlihatkan aksi kolektif pada abad ke 19 sudah mulai melihat peran penting pemanfaatan ruang publik serta media dalam menggalang dukungan rakyat serta menyuarakan tuntutannya. Aksi kolektif kedua abad itu memiliki ciri pergeseran yang fundamental yakni pada Hilangnya proses politik. Maksud dari hilangnya proses politik adalah pada bergesernya makna dari aksi kolektif tersebut. Aksi kolektif abad 19 merupakan sebuah ciri pergeseran hilangnya proses politik dari aksi kolektif yang sering terjadi pada abad ke 18. Aksi kolektif pada abad ke 19 menunjukkan adanya pemahaman mengenai independensi dan kemandirian dalam menyuarakan tuntutanya tampa harus mengikuti mekanisme dari politik pemerintahan. Aksi abad ke 19 menunjukkan sebuah aksi yang mulai melihat pemanfaatan ruang publik sebagai lahan strategis untuk menggalang dukungan dan untuk menyuarakan tuntutanya sehingga aksi kolektif pada abad ke 19 kemudian lebih bersifat apoitis atau non politik dan murni atas kemandirian rakyat dalam melakukan aksi kolektif untuk menyuarakan tuntutanya.


[1] Disusun oleh : Erry Mega Herlambang (07260098) Risa Noviyanti (06260107)
[2] Santoso, Thomas “Teori-teori kekerasan” ,  Jakarta : PT ghalia Indonesia 2002. Hal : 94.

Tidak ada komentar: